Musim kelulusan sekolah selalu membawa atmosfer kegembiraan yang meluap-luap bagi para remaja. Di era digital saat ini, perayaan tersebut tidak lagi sekadar coret-coret seragam di dunia nyata, melainkan telah berpindah ke panggung media sosial seperti TikTok dan Instagram.
Baru-baru ini, jagat maya ramai membicarakan tren video kelulusan para siswi yang mengenakan seragam ketat sambil melakukan tarian yang sedang viral. Fenomena ini memicu perdebatan sengit di kalangan warganet: apakah ini bentuk ekspresi kebebasan yang wajar, ataukah sudah melanggar batasan norma kesopanan?
Dorongan Validasi di Dunia MayaDari sudut pandang psikologi perkembangan, remaja memiliki dorongan kuat untuk diakui oleh lingkungan sebayanya (peer recognition). Mengunggah konten yang mengikuti tren global menjadi cara instan bagi mereka untuk merasa tervalidasi dan dianggap “gaul”. Kegembiraan setelah lulus dari beban ujian sekolah sering kali membuat mereka lepas kendali dan kurang memikirkan dampak jangka panjang dari apa yang mereka unggah ke internet.
Bahaya Nyata Jejak DigitalNamun, di sisi lain, ruang digital bersifat abadi. Jejak digital dari video-video yang dinilai kurang pantas tersebut dapat berdampak buruk pada reputasi akademis maupun profesional mereka di masa depan. Banyak perusahaan dan perguruan tinggi kini melakukan rekam jejak digital calon mahasiswa atau karyawan mereka. Sesuatu yang dianggap keren saat usia 18 tahun, bisa menjadi bumerang yang menghancurkan karier beberapa tahun kemudian.
Peran Bijak Orang Tua dan SekolahDi sinilah peran krusial orang tua dan institusi pendidikan diuji. Alih-alih memberikan penghakiman atau perundungan siber (cyberbullying) yang dapat merusak mental remaja, pendekatan yang edukatif jauh lebih dibutuhkan. Orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka mengenai literasi digital sejak dini.
Remaja harus diajak memahami bahwa mengekspresikan kebahagiaan dan kebebasan adalah hak mereka, namun tetap ada koridor norma sosial, budaya, dan agama yang harus dihormati. Merayakan kelulusan bisa dialihkan pada konten yang lebih kreatif dan inspiratif, seperti kilas balik perjuangan belajar atau apresiasi kepada guru dan teman. Dengan bimbingan yang tepat, euforia kelulusan tetap bisa dirayakan dengan penuh sukacita tanpa harus mengorbankan nilai kesantunan.

